Hai, post-an kali berbeda dari beberapa post-an aku sebelumnya. Cerpen ini cerpen yang aku buat untuk tugas Bahasa Indonesia waktu aku SMA. Kalau ga salah, aku juga pernah masukin cerpen ini buat lomba cerpen tapi ga menang hehe. Untuk yang baca cerpen ini, tolong kasih saran dan komentarnya ya. Selamat membaca.
***
Suasana
pagi ini boleh cerah, apa besok akan seperti ini lagi? Susah ditebak. Sama
seperti perasaanku. Tak perlu hitungan waktu untuk merubah suasana hati.
Rasanya baru sebentar aku merasa bahagia tapi sekarang itu semua hanya jadi
kenangan.
Aku tak
pernah menyesali sedetik pun waktu yang telah berlalu. Karena tak ada gunanya
kalau aku menyesali sesuatu yang telah berlalu. Apa mungkin kalau disesali itu
semua bisa berubah? Tidak. Dan sudah berapa detik kulalui dengan sia-sia kalau
aku selalu menyesali masa lalu? Tak terhingga. Sungguh rugi kalau aku
melakukannya. Sayang, prinsip itu tak berlaku lagi setelah aku ditinggalkannya.
Semalaman aku menangis. Menangisi perasaanku yang bertolak belakang dengan suasana pagi ini.
“Ra!! Keiraaa!”
Aku terus berjalan dan
mengacuhkan teriakan Nino. Aku yakin sahabatku itu ingin menanyakan sesuatu
yang tak ingin aku ungkapkan sekarang.
“Ra!! Kamu budek ya
sekarang! Apa kamu budek gara-gara kamu putus sama Aldi!” seketika aku terdiam.
Ingin rasanya aku memukulnya,
melakban mulutnya ketika dia telah sampai menghampiriku dan berharap dia bisa
lebih menjaga mulutnya yang bocor itu. Tapi sayangnya itu hanya sebatas pikiran
jahatku saja. Faktanya ketika dia datang air mataku jatuh. Melihatku menangis Nino
merangkulku dan menuntunku untuk duduk di kursi yang ada di lorong sekolah.
“Ra, jangan nangis
dong. Aku cuma bercanda kok.”
“Kenapa dia tega, No?”
tanyaku di tengah isak tangis, “Salah apa aku sama dia?”
“Kamu ga salah.”
“Terus? Kenapa dia
mutusin aku?”
Nino hanya diam,
membuatku geram akan tanggapannya.
“Kamu kan sahabatnya.
Ngga mungkin kalau dia ga cerita apa-apa!”
Lagi-lagi Nino hanya
diam. Tapi raut wajahnya tak bisa berbohong. Dia terlihat seperti menyembunyikan
sesuatu. Apa yang dia sembunyikan sebenarnya?
“No, ku mohon kasih tau
alasan Aldi,” Aku terus mendesaknya.
Nino tiba-tiba berdiri
dan membentakku. Aku kaget. Kini dia menginggalkanku sendirian di lorong
sekolah.
***
Seminggu sudah berlalu.
Perasaan galau perlahan menghilang. Air mata ku sudah kering, tak mengalir
lagi. Aku merasa seperti memulai kisah baru. Kisah tanpa dirinya. Tapi tanda
tanya ini belum bisa terpecahkan, bahkan semakin besar. Karena dia tiba-tiba
dinyatakan pindah sekolah oleh wali kelasku. Apa putusnya hubungan ku ini ada
hubungannya dengan ke pindahannya? Sampai sekarang itulah yang pertanyaan yang
masih menggantung di pikiranku.
***
Hari ini, aku hampir
terlambat masuk sekolah gara-gara aku harus kembali ke rumah buat mengambil
tugas praktikum kelompokku yang tertinggal. Ketika aku sampai di kelas, aku
terkejut. Ada setangkai mawar di atas mejaku. Aku ambil setangkai mawar merah
dan sebuah catatan kecil yang ditulis dengan pulpen pink itu.
Pagi, Ra. Tersenyumlah
untuk awal yang
indah. S- Itulah isi catatan
kecil yang sedang kupegang. Tapi catatan ini tak dilengkapi nama pengirim.
Mungkin Olla – teman sebangkuku – tau siapa pengirim bunga mawar ini.
“La, kamu tau bunga ini
dari siapa?” tanyaku sambil duduk dan melepaskan tas yang ada di pundakku.
“Ngga tau, Ra,”
jawabnya sambil meletakkan pulpen yang ada tangannya dan berpaling ke arahku,
“tadi waktu aku datang bunga itu udah ada di meja kamu.”
Aku hanya mengangguk,
mengiyakannya. Tak lama bel berbunyi, guru matematika pun masuk dan
pembelajaran pun dimulai.
***
“Akhirnya selesai juga,”
kata ku setelah selesai mengerjakan pr fisika, “waktunya menyiapkan buku buat
besok.”
Tak sengaja mataku
tertuju pada map biru yang ada di sudut meja belajarku. Aku ambil map itu dan kukeluarkan
semua kertas di dalamnya. Map ini berisi sketsa bunga mawar pemberian Aldi. Dia
memberikannya setiap bulan ditanggal jadian kami sebagai hadiah. Ada 16 sketsa
bunga mawar yang aku punya sekarang. Seandainya aku belum putus, mungkin besok
aku dapat tambahan sketsa bunga mawar.
Baby
don’t cry tonight eodumi geochigo namyoen[i].
Nada dering sms ku
berbunyi. Ku raih smartphoneku yang
ada di atas tempat tidur. Sebelum kumelihat siapa si pengirim sms aku berharap
itu sms dari Aldi.
Nuri
Happy
Birthday Kaira !!! Sebenarnya masih 3 jam lagi sih ulang tahun kamu hehe. Aku
takut ga bisa jadi yang pertama ngucapin happy birthday jadi aku ngucapinnya
sebelum aku tidur aja deh wkwk. Wishnya terserah kamu aja biar aku yang aminin.
AAMIIN!!! JANGAN DIBALAS YAA AKU MAU TIDUR.
Aku hanya geleng-geleng
sembari tersenyum ketika membaca sms dari Nuri. Walaupun sms yang kubaca ini
tak sesuai harapan, aku tetap bahagia. Ternyata masih ada yang ingat hari ulang
tahunku selain keluargaku.
Aku merasa masih belum
puas memandangi sketsa-sketsa yang Aldi berikan. Aku baru sadar, disetiap
sketsa ini ada kata-kata mutiaranya. Hmmm, kenapa aku merasa familiar dengan
tuliasan ini. Ya, aku tau ini tulisan Aldi tapi aku merasa akhir-akhir ini
sering melihat tulisan ini.
Tanpa sengaja tanganku
menyenggol vas bunga yang berisi 16 tangkai mawar dan untungnya aku sempat
menahannya agar tidak jatuh. Aku ingat. Tulisan Aldi itu mirip bahkan persis
sama dengan orang yang selama 16 hari terakhir memberiku bunga mawar.
Catatan-catatan kecil yang terselip di bunga mawar itu masih kusimpan rapi. Ku
keluarkan catatan-catatan kecil itu dari kotak pensil dan kubaca ulang satu
persatu isi catatan tersebut.
Ketika membaca ulang catatan
kecil ini, aku baru menyadari di bagian akhir catatan kecil ini selalu ada satu
huruf yang tersendiri. Apakah ini sebuah klu? Aku pun mencoba menyusun
huruf-huruf itu.
“Selamat ulang tahu…?”
Apa benar itu
susunannya? Tapi aku yakin itu benar karena aku menyimpan catatan kecil itu
secara berurutan. Seandainya besok ada bunga mawar dan catatan kecil itu lagi,
aku yakin satu huruf yang tersendiri itu “n”.
Apa mungkin yang
mengirim itu Aldi? Bukankah dia sudah pindah sekolah di luar kota. Rasanya
mustahil kalau dia rela bolak-balik Jakarta – Banjarmasin hanya untuk memberi
ku bunga mawar dan catatan kecil penyemangat. Atau dia mau memberi kejutan
diulang tahunku..
“Itu semua ngga
mungkin!” Aku menggeleng-geleng menampik semua kemungkinan yang ada dalam
pikiranku.
Besok aku harus berangkat
lebih cepat dari si pengirim. Aku ingin mengungkap siapa pengirim bunga mawar
ini. Sebenarnya hati ini selalu berharap kalau pengirim bunga itu Aldi. Tapi
seandainya dia bukan Aldi, mungkin aku bisa bersahabat dengannya. Atau bisa
jadi dia yang akan menjadi pengganti posisi Aldi di hatiku.
***
Senang sekali rasanya
pagi ini berangkat ke sekolah diantar sama kakak. Aku tau dia pasti kesal
karena dia terpaksa menunda waktu tidurnya hanya untuk mengantarku sekolah.
Sebernarnya aku kasihan sama kakakku ini. Minggu ini dia kena shif malam dan
baru jam 6 subuh dia sampai ke rumah. Tapi mau gimana lagi, Mama yang
memintanya untuk mengantarku,
“Hoooaaaam…”
Kakakku menghentikan
motornya lalu menutup mulutnya yang sedari tadi terus menguap. Aku turun dari
motornya dan memberikan helm yang kupakai.
“Lajui, bulik gin. Kena pian apa-apa di jalan,”[ii]
kataku setelah melihat kakakku selesai menggantungkan helmku.
“Hiih. Kakak bulik dulu ding lah.”[iii]
Ricky – kakaku
menyalakan motornya dan sebelum dia melajukan motornya aku salim dengannya. Aku
terus memandangi kepergiannya sampai dia tak terlihat barulah aku berbalik dan
masuk ke dalam sekolah.
Kulihat jam yang
melingkar di tangan. Lalu kualihkan pandanganku ke arah parkiran motor.
“Ternyata cukup banyak
juga orang yang sudah ada di sekolah sebelum jam tujuh,” gumamku sambil
tertawa. Mentertawakan diriku yang selalu hadir lewat dari jam tujuh.
Ada rasa penasaran dan gugup
untuk mengungkap siapa si pengirim bunga mawar. Aku mempercepat langkahku. Takut
dia sudah pergi dari kelasku. Ketika aku masuk ke dalam kelas tiba-tiba ku
terdiam. Kaget. Tak percaya melihat seseorang yang sedang meletakan sesuatu di
mejaku. Aku mengenal betul orang itu.
“Nino?!”
Orang itu berbalik dan
terlihat panik ketika tahu orang yang memanggilnya itu adalah aku. Perlahanku
mendekatinya dengan kepala yang terus menggeleng lemah menampik apa yang telah
terjadi.
“Ternyata… Kamu?!”
Kataku saat tepat dihadapannya.
“Ra, aku bisa jelasin.”
“Semuanya udah jelas,
No.”
“Tapi, Ra . . .”
“Apa Aldi mutusin aku
gara-gara kamu? Bukannya kamu yang bikin aku sama Aldi jadian? Apa kamu juga
yang buat aku putus sama Aldi? Jawab no!” bentakku.
“Ra, kamu salah paham.”
“Terus apa maksud semua
ini?!”
Seperti biasa dalam
keadaan desakan Nino hanya diam tanpa berani menatap mataku. Kenapa lagi-lagi
aku di posisi seperti ini.
“Kenapa diam, No?”
Kataku melemah “Oke, Kalau emang kamu ga terlibat dalam putusnya hubunganku
sama Aldi, terus apa alasannya kamu ngasih bunga mawar?”
Tenagaku habis,
terkuras oleh emosi sesaatku. Ku hempaskan diriku ke kursi yang ada di samping
kananku.
“Ikut aku sebentar,
Ra.” Kata Nino sambil menarik tanganku.
Nino membawaku ke pojok
lorong sekolah dan mengarahkanku untuk duduk di kursi panjang yang menempel di
dinding. Kami saling diam, diam dengan pikiran masing-masing. Ku coba
mananyakan lagi apa yang tadi kutanyakan di kelas. Lalu dia merogoh saku
celananya dan mengeluarkan sebuah surat.
“Ambil, Ra,” Kata Nino sambil mengarahkan surat
itu ke tanganku, “isi surat ini dapat menjawab semua pertanyaan yang membuat
kamu galau selama beberapa terakhir ini.”
Mataku terasa panas dan tak lama air mataku
mengalir. Ini bukan air mata kesedihan lagi. Aku sudah merasa lega, karena
terjawab sudah pertanyaan yang selama ini menguras emosiku.
[i] Lirik lagu EXO-K – Baby Don’t Cry
[ii] Bahasa banjar yang artinya “Cepat, pulang sana. Nanti kalau kakak
terjadi sesuatu di jalan”
[iii] Bahasa banjar yang artinya “Iya, Kakak pulang dulu ya de.”
iv Spondilitis
tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah peradangan granulomatosa
yg bersifat kronisdestruktif oleh Mycobacterium tuberculosis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar