Kamis, 26 November 2015

Cerpen (Short Story): The Last Rose (Mawar Terakhir)

Hai, post-an kali berbeda dari beberapa post-an aku sebelumnya. Cerpen ini cerpen yang aku buat untuk tugas Bahasa Indonesia waktu aku SMA. Kalau ga salah, aku juga pernah masukin cerpen ini buat lomba cerpen tapi ga menang hehe. Untuk yang baca cerpen ini, tolong kasih saran dan komentarnya ya. Selamat membaca.

***

Suasana pagi ini boleh cerah, apa besok akan seperti ini lagi? Susah ditebak. Sama seperti perasaanku. Tak perlu hitungan waktu untuk merubah suasana hati. Rasanya baru sebentar aku merasa bahagia tapi sekarang itu semua hanya jadi kenangan.
Aku tak pernah menyesali sedetik pun waktu yang telah berlalu. Karena tak ada gunanya kalau aku menyesali sesuatu yang telah berlalu. Apa mungkin kalau disesali itu semua bisa berubah? Tidak. Dan sudah berapa detik kulalui dengan sia-sia kalau aku selalu menyesali masa lalu? Tak terhingga. Sungguh rugi kalau aku melakukannya. Sayang, prinsip itu tak berlaku lagi setelah aku ditinggalkannya.
Semalaman aku menangis. Menangisi perasaanku yang bertolak belakang dengan suasana pagi ini.
“Ra!! Keiraaa!”
Aku terus berjalan dan mengacuhkan teriakan Nino. Aku yakin sahabatku itu ingin menanyakan sesuatu yang tak ingin aku ungkapkan sekarang.
“Ra!! Kamu budek ya sekarang! Apa kamu budek gara-gara kamu putus sama Aldi!” seketika aku terdiam.
Ingin rasanya aku memukulnya, melakban mulutnya ketika dia telah sampai menghampiriku dan berharap dia bisa lebih menjaga mulutnya yang bocor itu. Tapi sayangnya itu hanya sebatas pikiran jahatku saja. Faktanya ketika dia datang air mataku jatuh. Melihatku menangis Nino merangkulku dan menuntunku untuk duduk di kursi yang ada di lorong sekolah.
“Ra, jangan nangis dong. Aku cuma bercanda kok.”
“Kenapa dia tega, No?” tanyaku di tengah isak tangis, “Salah apa aku sama dia?”
“Kamu ga salah.”
“Terus? Kenapa dia mutusin aku?”
Nino hanya diam, membuatku geram akan tanggapannya.
“Kamu kan sahabatnya. Ngga mungkin kalau dia ga cerita apa-apa!”
Lagi-lagi Nino hanya diam. Tapi raut wajahnya tak bisa berbohong. Dia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Apa yang dia sembunyikan sebenarnya?
“No, ku mohon kasih tau alasan Aldi,” Aku terus mendesaknya.
Nino tiba-tiba berdiri dan membentakku. Aku kaget. Kini dia menginggalkanku sendirian di lorong sekolah.
***
Seminggu sudah berlalu. Perasaan galau perlahan menghilang. Air mata ku sudah kering, tak mengalir lagi. Aku merasa seperti memulai kisah baru. Kisah tanpa dirinya. Tapi tanda tanya ini belum bisa terpecahkan, bahkan semakin besar. Karena dia tiba-tiba dinyatakan pindah sekolah oleh wali kelasku. Apa putusnya hubungan ku ini ada hubungannya dengan ke pindahannya? Sampai sekarang itulah yang pertanyaan yang masih menggantung di pikiranku.
***
Hari ini, aku hampir terlambat masuk sekolah gara-gara aku harus kembali ke rumah buat mengambil tugas praktikum kelompokku yang tertinggal. Ketika aku sampai di kelas, aku terkejut. Ada setangkai mawar di atas mejaku. Aku ambil setangkai mawar merah dan sebuah catatan kecil yang ditulis dengan pulpen pink itu.
Pagi, Ra. Tersenyumlah untuk awal yang indah. S- Itulah isi catatan kecil yang sedang kupegang. Tapi catatan ini tak dilengkapi nama pengirim. Mungkin Olla – teman sebangkuku – tau siapa pengirim bunga mawar ini.
“La, kamu tau bunga ini dari siapa?” tanyaku sambil duduk dan melepaskan tas yang ada di pundakku.
“Ngga tau, Ra,” jawabnya sambil meletakkan pulpen yang ada tangannya dan berpaling ke arahku, “tadi waktu aku datang bunga itu udah ada di meja kamu.”
Aku hanya mengangguk, mengiyakannya. Tak lama bel berbunyi, guru matematika pun masuk dan pembelajaran pun dimulai.
***
“Akhirnya selesai juga,” kata ku setelah selesai mengerjakan pr fisika, “waktunya menyiapkan buku buat besok.”
Tak sengaja mataku tertuju pada map biru yang ada di sudut meja belajarku. Aku ambil map itu dan kukeluarkan semua kertas di dalamnya. Map ini berisi sketsa bunga mawar pemberian Aldi. Dia memberikannya setiap bulan ditanggal jadian kami sebagai hadiah. Ada 16 sketsa bunga mawar yang aku punya sekarang. Seandainya aku belum putus, mungkin besok aku dapat tambahan sketsa bunga mawar.
Baby don’t cry tonight eodumi geochigo namyoen[i]. Nada dering sms ku berbunyi. Ku raih smartphoneku yang ada di atas tempat tidur. Sebelum kumelihat siapa si pengirim sms aku berharap itu sms dari Aldi.
Nuri
Happy Birthday Kaira !!! Sebenarnya masih 3 jam lagi sih ulang tahun kamu hehe. Aku takut ga bisa jadi yang pertama ngucapin happy birthday jadi aku ngucapinnya sebelum aku tidur aja deh wkwk. Wishnya terserah kamu aja biar aku yang aminin. AAMIIN!!! JANGAN DIBALAS YAA AKU MAU TIDUR.
Aku hanya geleng-geleng sembari tersenyum ketika membaca sms dari Nuri. Walaupun sms yang kubaca ini tak sesuai harapan, aku tetap bahagia. Ternyata masih ada yang ingat hari ulang tahunku selain keluargaku.
Aku merasa masih belum puas memandangi sketsa-sketsa yang Aldi berikan. Aku baru sadar, disetiap sketsa ini ada kata-kata mutiaranya. Hmmm, kenapa aku merasa familiar dengan tuliasan ini. Ya, aku tau ini tulisan Aldi tapi aku merasa akhir-akhir ini sering melihat tulisan ini.
Tanpa sengaja tanganku menyenggol vas bunga yang berisi 16 tangkai mawar dan untungnya aku sempat menahannya agar tidak jatuh. Aku ingat. Tulisan Aldi itu mirip bahkan persis sama dengan orang yang selama 16 hari terakhir memberiku bunga mawar. Catatan-catatan kecil yang terselip di bunga mawar itu masih kusimpan rapi. Ku keluarkan catatan-catatan kecil itu dari kotak pensil dan kubaca ulang satu persatu isi catatan tersebut.
Ketika membaca ulang catatan kecil ini, aku baru menyadari di bagian akhir catatan kecil ini selalu ada satu huruf yang tersendiri. Apakah ini sebuah klu? Aku pun mencoba menyusun huruf-huruf itu.
“Selamat ulang tahu…?”
Apa benar itu susunannya? Tapi aku yakin itu benar karena aku menyimpan catatan kecil itu secara berurutan. Seandainya besok ada bunga mawar dan catatan kecil itu lagi, aku yakin satu huruf yang tersendiri itu “n”.
Apa mungkin yang mengirim itu Aldi? Bukankah dia sudah pindah sekolah di luar kota. Rasanya mustahil kalau dia rela bolak-balik Jakarta – Banjarmasin hanya untuk memberi ku bunga mawar dan catatan kecil penyemangat. Atau dia mau memberi kejutan diulang tahunku..
“Itu semua ngga mungkin!” Aku menggeleng-geleng menampik semua kemungkinan yang ada dalam pikiranku.
Besok aku harus berangkat lebih cepat dari si pengirim. Aku ingin mengungkap siapa pengirim bunga mawar ini. Sebenarnya hati ini selalu berharap kalau pengirim bunga itu Aldi. Tapi seandainya dia bukan Aldi, mungkin aku bisa bersahabat dengannya. Atau bisa jadi dia yang akan menjadi pengganti posisi Aldi di hatiku.
***
Senang sekali rasanya pagi ini berangkat ke sekolah diantar sama kakak. Aku tau dia pasti kesal karena dia terpaksa menunda waktu tidurnya hanya untuk mengantarku sekolah. Sebernarnya aku kasihan sama kakakku ini. Minggu ini dia kena shif malam dan baru jam 6 subuh dia sampai ke rumah. Tapi mau gimana lagi, Mama yang memintanya untuk mengantarku,
“Hoooaaaam…”
Kakakku menghentikan motornya lalu menutup mulutnya yang sedari tadi terus menguap. Aku turun dari motornya dan memberikan helm yang kupakai.
Lajui, bulik gin. Kena pian apa-apa di jalan,”[ii] kataku setelah melihat kakakku selesai menggantungkan helmku.
Hiih. Kakak bulik dulu ding lah.[iii]
Ricky – kakaku menyalakan motornya dan sebelum dia melajukan motornya aku salim dengannya. Aku terus memandangi kepergiannya sampai dia tak terlihat barulah aku berbalik dan masuk ke dalam sekolah.
Kulihat jam yang melingkar di tangan. Lalu kualihkan pandanganku ke arah parkiran motor.
“Ternyata cukup banyak juga orang yang sudah ada di sekolah sebelum jam tujuh,” gumamku sambil tertawa. Mentertawakan diriku yang selalu hadir lewat dari jam tujuh.
Ada rasa penasaran dan gugup untuk mengungkap siapa si pengirim bunga mawar. Aku mempercepat langkahku. Takut dia sudah pergi dari kelasku. Ketika aku masuk ke dalam kelas tiba-tiba ku terdiam. Kaget. Tak percaya melihat seseorang yang sedang meletakan sesuatu di mejaku. Aku mengenal betul orang itu.
“Nino?!”
Orang itu berbalik dan terlihat panik ketika tahu orang yang memanggilnya itu adalah aku. Perlahanku mendekatinya dengan kepala yang terus menggeleng lemah menampik apa yang telah terjadi.
“Ternyata… Kamu?!” Kataku saat tepat dihadapannya.
“Ra, aku bisa jelasin.”
“Semuanya udah jelas, No.”
“Tapi, Ra . . .”
“Apa Aldi mutusin aku gara-gara kamu? Bukannya kamu yang bikin aku sama Aldi jadian? Apa kamu juga yang buat aku putus sama Aldi? Jawab no!” bentakku.
“Ra, kamu salah paham.”
“Terus apa maksud semua ini?!”
Seperti biasa dalam keadaan desakan Nino hanya diam tanpa berani menatap mataku. Kenapa lagi-lagi aku di posisi seperti ini.
“Kenapa diam, No?” Kataku melemah “Oke, Kalau emang kamu ga terlibat dalam putusnya hubunganku sama Aldi, terus apa alasannya kamu ngasih bunga mawar?”
Tenagaku habis, terkuras oleh emosi sesaatku. Ku hempaskan diriku ke kursi yang ada di samping kananku.
“Ikut aku sebentar, Ra.” Kata Nino sambil menarik tanganku.
Nino membawaku ke pojok lorong sekolah dan mengarahkanku untuk duduk di kursi panjang yang menempel di dinding. Kami saling diam, diam dengan pikiran masing-masing. Ku coba mananyakan lagi apa yang tadi kutanyakan di kelas. Lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah surat.
“Ambil, Ra,” Kata Nino sambil mengarahkan surat itu ke tanganku, “isi surat ini dapat menjawab semua pertanyaan yang membuat kamu galau selama beberapa terakhir ini.”




Mataku terasa panas dan tak lama air mataku mengalir. Ini bukan air mata kesedihan lagi. Aku sudah merasa lega, karena terjawab sudah pertanyaan yang selama ini menguras emosiku.



[i] Lirik lagu EXO-K – Baby Don’t Cry
[ii] Bahasa banjar yang artinya “Cepat, pulang sana. Nanti kalau kakak terjadi sesuatu di jalan”
[iii] Bahasa banjar yang artinya “Iya, Kakak pulang dulu ya de.”
iv Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah peradangan granulomatosa yg bersifat kronisdestruktif oleh Mycobacterium tuberculosis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar